Web Video



Judul:[FULL] Fakta tvOne - "Protes Suara Adzan: Menista Agama?"
Durasi:00:41:25
Dilihat:157,159x
Diterbitkan:03 September 2018
Sumber:Youtube
Suka Ini ?:

Kepolisian Resor Kota Tanjungbalai memastikan bahwa Meliana (41), warga yang mengeluhkan kerasnya volume suara di Masjid Al Maksum Tanjungbalai Sumatera Utara, telah meminta maaf atas perbuatannya.

Pernyataan itu, menurut Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan, telah disampaikan Meliana secara terbuka, didampingi suaminya Liam Tiu (51), pada malam saat pecahnya amuk massa yang membakar delapan vihara di Tanjungbalai, Jumat malam, 29 Juli 2016.

"Mereka sudah meminta maaf secara terbuka," kata Ayep, Jumat, 5 Agustus 2016.

Bersamaan dengan itu, kata Ayep, permintaan maaf juga disampaikan langsung oleh dua tersangka provokasi warga yakni, Budi Herianto dan Aldo. Namun demikian, ia memastikan jika kedua tersangka tersebut tetap akan diproses hukum atas perbuatannya.

"Permohonan maaf itu mungkin bisa menjadi hal yang meringankan yang bersangkutan di persidangan nanti," kata Ayep.

Pekan lalu, dengan dihadiri Wali Kota Tanjungbalai Syahrial, memang difasilitasi permohonan maaf antara warga yang memprotes volume suara masjid dengan para pelaku kerusuhan.

Dalam pernyataannya, Meliana menyebut menyesalkan ucapannya yang menyinggung warga. "Dari lubuk hati saya paling dalam, saya meminta maaf," ujar Meliana.

Kerusuhan di Tanjungbalai, terjadi pada Jumat 29 Juli 2016. Peristiwa ini dipicu oleh kemarahan warga atas protes seorang tetangga masjid yang meminta volume pengeras suara di Masjid Al Maksum agar dikecilkan.

Akibat ini delapan vihara dilaporkan dibakar termasuk sejumlah kendaraan. Hingga kini sebanyak 19 orang telah ditetapkan tersangka. Delapan orang kasus pencurian dan penjarahan, sembilan perusakan dan dua lainnya sebagai provokator. Total saksi yang diperiksa mencapai 58 orang.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya telah memastikan bahwa kerusuhan di Tanjungbalai bukan terkait masalah agama. Menurutnya, peristiwa itu murni konflik antar warga.

"Ini bukan masalah agama tapi kehidupan bertetangga. Yang satu orangnya keras dan kasar, sedangkan pihak sebelah sana sensitif," kata Tito, Kamis, 4 Agustus 2016.

BAGIKAN KE TEMAN ANDA